Tradisi Suronan Desa Brajan

Brajan - Tahun Baru Islam atau yang kerap disebut Satu Suro oleh masyarakat jawa ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan, berdoa besama, pengajian atau melakukan ritual yang sudah dari jaman leluhur dulunya sudah dilakukan. Satu suro juga dimanfaatkan warga desa Brajan dalam melaksanakan kegiatan berupa tirakat semalam suntuk yang bertempat di beberapa rumah warga atau perangkat desa. Setelah waktu menunjukkan bada isya mereka berkumpul untuk berdoa bersama memohon kepada sang pencipta agar dijauhkan dari musibah-musibah yang kemungkinan bisa terjadi kapan saja. Sehingga mereka meminta keselamatan dan perlindungan dari sang illahi melalui malam tirakatan.

Di desa Brajan satu suro bisa berakhir sampai pagi dini hari, karena ditiap lingkup RT beda dalam waktu melaksanakan tirakatan. Seperti halnya di dukuh Tegal Geneng, malam suronan yang diadakan dikediaman Kasi Kesran, Sihono yang berlangsung hingga subuh dini hari. Sesudah warga berdoa maka dilanjutkan acara jamuan makan kenduri bersama seluruh warga di dukuh tersebut.

Warga desa Brajan kebanyakan masih memiliki kepercayaan kejawennya sehingga menganggap malam suro sebagai tanggal keramat. Semua masyarakat desa pada malam satu suro dilarang berpergian atau mengadakan hajatan pada saat mendekati suronan untuk lebih menggunakan waktu mereka dengan berdoa ataupun melakukan ibadah sesuai kepercayaan masing - masing.

Berita Terkini
Wakil Bupati Lantik Pejabat Baru
Senin 23 Oktober 2017